Senin, 30 September 2013

Masalah Pendidikan di Negara Kita





Masalah pendidikan di Indonesia adalah cerita lama. Mulai dari bangunan roboh sampai anak-anak putus sekolah adalah masalah yang mendarah daging sejak dahulu. Inilah sekelumit masalah pendidikan yang ada di Indonesia:

1. Sulitnya akses pendidikan ( di daerah-daerah)
2. Kurangnya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai
3. Kurangnya kualitas guru
4. Kesejahteraan guru yang sangat minim
5. Tidak relevannya kurikulum pendidikan dengan kebutuhan hidup ( Sebagian besar pelajaran di sekolah fokus pada teori didalam kelas, bukannya percobaan dan pengalaman langsung)
6. Mahalnya biaya pendidikan
7. Tidak adanya kesadaran orang tua di daerah-daerah untuk menyekolahkan anaknya

Memang, beberapa sekolah di perkotaan sudah relatif maju dan memadai. Akan tetapi cobalah Anda pikirkan, apakah presentasi anak yang sekolah di sekolah eksklusif serba memadai setara dengan anak yang harus berjalan kaki berjam-jam untuk menuju sekolahnya yang reyot?

Pembangunan yang terlalu terpusat di perkotaan dan tidak merata ke daerah-daerah di Indonesia menyebabkan terjadinya permasalah pendidikan. Adapun masyarakat miskin perkotaan tetap harus menahan keinginannya untuk mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah yang bermutu.

Kabar baiknya, pemerintah sedang berusaha untuk meluruskan benang kusut masalah sosial ini. Berbagai program dijalankan dengan tujuan memperbaiki pendidikan Indonesia, seperti program Dana Bantuan Operasional Sekolah ( BOS) untuk memenuhi kebutuha fasilitas dan sarana sekolah, program Indonesia Mengajar untuk memenuhi kebutuhan guru di pelosok, kualitas tenaga pendidik, program sekolah gratis untuk membantu mereka yang tidak mampu membayar biaya pendidikan, berbagai program beasiswa, dan sebagainya.

Permasalahan pendidikan juga mencakup tidak memadainya pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Terbatasnya jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) cukup menyulitkan bagi para orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Namun di daerah-daerah, banyak juga orang tua yang berpikir bahwa anaknya yang 'berbeda' tidak perlu disekolahkan. Ini juga sepatutnya menjadi fokus pemerintah.